Beranda » Home

Category Archives: Home

SADURAN SANG POTLOT

sorri

SADURAN SANG POTLOT

“Raja Karya”

 

Kata Ipar, “Ia itu dapat memperbaiki diri setelah habis ditelan masa,dengan rautan yang senantiasa mendampingi, ia juga bisa memperbaiki apa yang telah diciptanya, oleh setip yang bertengger di kepala, tanpa meninggalkan jejak luka.”_@Palupidwijayanti (Kakak paling canss)

 

Tutur Ndut, “Ia dapat menghasilkan karya – karya yang luar biasa, dijual pun bisa dapat duit. Buat nulis pasti membutuhkannya, tak lupa selembar kertas tuk menyandingnya. Ia menunjukkan jalan hidup yang penuh liku, jika berbuat baik maka akan berbuah manis, tapi apabila ia beramal busuk akan mewariskan goresan – goresan aus.”_@dcahyono1998 (Konco Koplak)

 

Celoteh Abang, “Walaupun ia tak memikat, jangan pernah remahkan desain rakitannya.”_Fajar (Sobat SMA)

 

 Cakap Sobat, “Ia mampu menorah ribuan angan, karna angan perlu di abadikan. Ia juga mampu mewakili rasa yang terpendam, rasa yang tak mampu diungkap oleh bibir yang kelu.”_Fitri (Saudara Kembar)

 

Ujar Mamas, “Goresan garis hitam yang banyak dinilai  adalah sebuah kotoran tetapi bisa menghasilkan seni keindahan.”_@pemimpi_indah (Kakak paling cuek bebek)

 

Madah Mas Gin, “Mengalami pedihnya luka ketika diraut untuk diruncingkan, tetapi itu semua akan membuatnya tajam dan berguna. Setiap goresannya memiliki makna tersendiri, dan dapat di hapus kembali.”_Mas Akip (Mas paling ngertiin perasaan aing)

 

Amanat Pencipta, “Pertama, Kau akan menghasilkan karya hebat, jika kau rela dirimu dibimbing. Kedua, mungkin kau akan mengalami masa masa menyakitkan, tapi yakinlah ini akan membuatmu menjadi lebih baik. Ketiga, kau kuberi kemampuan untuk memperbaiki kesalahanmu, maka gunakan itu. Keempat, ingatlah bahwa bagian terpenting dirimu, adalah yang terletak didalam. Kelima, sesulit apapun yang kau hadapi, kau harus tetap meninggalkan jejak yang baik, jelas, dan bersih.” 🙂 

 

 

@gustin_narra

 

 

Iklan

Pijar

mqdefault

 

PIJAR

 

Hidupmu mematikanku,

Nyalamu mengikis hidupku,

Juga melelehkan tubuhku,

 

Kau sombong dengan cahyamu,

Kau menerangi gelapnya orang,

Tapi kau melukai tubuhmu sendiri.

 

Salut..

Dengan keadaanmu yang kecil tak dianggap,

Kau masih ikhlas menyuguhkan cahyamu,

 

Cahyamu memang akan hilang setelah beberapa saat,

Namun cahyamu itu yang membantu kami,

Menunjukkan pada kami,

Pentingnya dirimu saat dalam kegelapan,

 

Tubuhmu mungil,

Dirimu juga mudah patah,

Namun pengorbananmu untuk kami begitu besar.

 

Kau selalu memimpikan malam,

Berharap kau dibutuhkan,

Tapi apa daya,

Kau termakan usia,

Bukan jamannya sekarang menggunakanmu,

Ada yang lebih terang cahyanya daripada dirimu,

Bahkan ia bisa bertahan bertahun tahun.

 

Apalah dirimu sekarang ini,

Namun, lagi lagi,,,,

Kau memaksaku untuk mengatakan,

Aku SALUT padamu!

 

Kau tak letih letihnya menunggu,

Hanya demi cahyamu yang redup,

Dibutuhkan kembali,

Menggantikan dirinya yang cerah.

 

Redupmu lebih berarti daripada dirinya ketika mati,

Redupmu kan selalu dicari ketika dirinya pergi,

Redupmu pulalah penyelamat ketika dirinya berpaling.

 

Jadi kubilang sekali lagi,

Kau pantas menyombongkan diri,

Dengan cahya redupmu.

 

Tapi aku mohon,

Sombongmu itu karna kau bisa,

Bukan karna semena – mena.

 

Kupanggil kau ketika aku rindu,

Karnaku menyanjungmu,

Seperti keteduhan redupmu,

Yang menyilaukan sanubariku,

 

Tetaplah berpegang pada ciri khasmu,

Karna itu yang kurindu,

Menjadi diri sendiri dengan redupmu itu lebih indah,

Daripada harus mencuri cahyanya yang menyilaukan mata.

 

 

@Gustin_narra

 

 

 

 

 

CUMBU MALAM

moon-conjunction-venus

CUMBU MALAM

 

 

Andai malam bisa bercerita,
Tentang bulan yang sedang bercumbu rayu dengan bintang,
Tentang kilaunya purnama di akhir pekan,
Tentang kisah kita di alam bawah sadar,

Namun malam tetaplah memilih diam,
Menyimpan segala rasa yang terpendam,
Jauh di dalam inti bumi yang terdalam,
Sampai api membakar kerinduan,

Ahh… Malam tetaplah malam,
Tak bisa di sebut pagi ataupin siang,
Sore pun tak mau disebut malam,
Karna senja kan hilang jika dinamai malam,

Semalam diriku bermimpi,
Tentang bintang yang mencumbu kening sang bulan,
Haha senja pun tertawa mendengarnya,
Eloknya kisah bintang dibalik malam ini,

Malam yang biasanya gelap,
Hitam kelam, menghasilkan jarak,
Kali ini malam memberi pelangi,
Merasa dihargai, dihormati,
Dan memperlihatkan janji yang tak terucap.

Malam masih saja diam,
Tak mau mengungkapkan,

Bulan pun masih menjauh untuk menjaga,
Konsep klasik tentang cinta,
Menyedihkan?
Namun harus tetap tergenggam.

Bintang terlihat tegar dan dewasa malam itu,
Entah apa yang tengah dirasa,
Jarak menyampaikan keluh – kesahnya,
Dibalik senyuman malam yang imut nian.

Ahh…. Malam kurang bersahabat kali ini,
Bungaku di renggut pagi begitu saja,
Dan malam memilih diam tak mempersalahkan,
Ohhh pagi jahat nian kau ini?
Beraninya kau renggut bungaku dengan sinarmu yang menyilaukan,

Enggan tuk beranjak,
Ingin rasanya meraih bungaku kembali,
Tapi tetap saja alam sudah berbeda adanya,
Tlah berpindah ruang dan waktu

 

@Gustin_Narra

HANYA KEKASIH HATI

ya-allah

HANYA KEKASIH HATI

 

Pagi itu kau mencariku,
Menelusuri jejak kakiku yang mulai tertutup salju,
Kau datang kembali dengan menampakkan rindu,
Mengetuk pintu yang sudah mulai mengunci.

Kau menguak rindu dengan bahasamu,
Heran aku padamu,
Kenapa? Saat kita berjumpa kau hanya diam membisu,
Bahkan kau sama sekali tak menyapaku,

Aku mencoba bertingkah biasa padamu,
Tapi aku tak bisa,
Tatapan matamu….
Memberi keteduhan pada diriku.

Kukira kau sudah lupa,
Lupa akan kehangatan senyummu yang tlah kau bagi padaku,
Kau menggali lagi kenangan yang mulai terkubur dalam,
Hingga tanah menyapa “Untuk apa?”

Kau selalu muncul dalam kerinduan yang tak berbekas,
Menanamkan kebimbangan yang mulai meretas,
Gundah hati ini,
Dengan sikapmu yang membingungkan,

Diammu menjadi peganganku,
Namun tiap kali aku mengetuk pintu,
Kau tak pernak membukanya untukku.

Diammu meneduhkan risau hatiku,
Acap kali aku menelusuk mencarimu,
Aku tak akan pernah menemukanmu,
Entah,
Kau menyuguhkan misteri bagiku,
Seakan – akan aku sendiri yang harus berkelana mencari tau isi hatimu.

Apakah salah bila aku mulai berpaling kelain hati?
Karna dirimu tak pernah memberi celah untukku masuk,
Kau hanya memberi harapan – harapan yang sulit kurengkuh,
Seperti aroma – aroma rindu yang kian menelusuk,

Hari demi hari tertatih,
Menunggu harapan menjadi kasih,
Ada yang sakit karnanya,

Jika ada, maka lebih baik diam,
Memenjarakan kasih pada pualam,
Agar tetap terjaga dalam diam.
Menjadi kisah yang tak terlupakan.

@gustin narra

ORA LILO! *1)

richmanpoorman-768x432

ORA LILO *1)

 

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Menghempas segala yang ada dihadapan,
Hingga dedaunan terseok menghardik kawanan,
Jauh melesat menghantam kilaunya awan.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Memberi celah bagi sang bintang,
Tuk berlayar di atas awan.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Berpacu pada kisah – kisah metropolitan,
Melankolis memang, tapi inilah kesenjangan.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Melihat orang pinggiran,
Seperti seekor anjing yang meminta makan.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Mengecam keadilan macam apa ini?
Damai? Tidak pun.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Melihat sepak terjang para kolektor,
Mengangguk pergi penuh kebejatan,

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Seonggok daging terkulai lemah,
Karna kurangnya kepedulian,

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Mana hati nuranimu?
Melihat saudaramu saja kau tak peduli!
Bahkan sampai mati pun kau tak kan memberi.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Hidup berperangai mewah,
Tapi melalaikan perjuangan.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Meja bundar bercerita,
Namun dikendalikan oleh harta.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Menertawakan kemenangan,
Dengan asas tak berkesudahan.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Apakah pantas disebut Negara hukum?
Jika hukum berpihak pada yang kaya saja.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Yang di bawah hanya bisa terdiam,
Pasrah menghadapi kenyataan.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Yang di atas tertawa suka ria,
Dengan segala kemenangan.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Tanpa ada guna tanpa ada daya,
Menatap langit biru dalam dekapan mesra.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Kami tegaskan!
Kami bukanlah pakan ternak,
Yang dilempar kesana kemari,
Yang kemudian ditelan, serta diludahi.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Hargai kami sebagai saudaramu,
Setidaknya bebaskan kami dari jeratan keadilan yang membelenggu.

Angin mengalir dengan riuh – riuh kekesalan,
Kurang baik apa kami?
Kami selalu membelamu,
Walau kadang langkahmu mulai berbelok arah.

Angin mengalir dengan tenang,
Karna kedamaian menjadi saksi,
Saksi bisu diantara pertikaian bintang.

*1) Tak Terima

 

@gustin_narra

BALADA RINDU

PhotoGrid_1460292726473

BALADA RINDU”
Di Puncak Merbabu

 

 

Ku teguk aroma kopi malam itu,
Bersama ribuan rindu yang menghiasi mimpiku,
Tak lupa di temani alunan nan syahdu,
Yang membuat candu semakin berkutat di alam rindu.

Aromanya mengembara mengajak randu berdendang ria,
Memilah milah kisah yang tlah berlalu,
Menjadi kenangan penuh rindu.

Waktu menyulut sedih,
Karna rindu kian bergulir,
Mengelilingi berbagai kisah,
Yang sudah mulai mencair,

Setapak kenangan menjadikan isi memori,
Yang kan setia menemani rindunya senja kepada mentari pagi,

Sayang!
Senja manyapaku dengan malu – malu kala itu,
Senyumnya tak terlihat,
Karna waktu tak mengijinkan,
Tapi…
Aku masih merindukan senja di puncakmu,
Lain kali aku kan datang kembali, untuk sekedar menengokmu,
Bercanda ria dengan tawa indahmu.

Lain halnya denganmu Sayang!
Kau mentari pagi,
Kehangatan senyummu yang mengantarku pada rindu jinggamu,
Aku cemburu!
Semua mata memandang senyum indahmu,
Hingga kau berbalik arah membelakangiku.
Tapi aku tetap senang,
Karna berjumpa denganmu, sudah hal terindah bagiku.

Sayang!
Tetaplah tersenyum seperti itu padaku,
Aku akan tetap mengejarmu,
Di puncak manapun kau berada,

Rinduku padamu, sama halnya rinduku padanya,
Rinduku menumbuhkan rasa Tresno
Menganyam rasa dalam guratan – guratan pena.

Malam yang berlabuh ke dalam dekapan bulan,
Masih menyimpan aroma kopi hitam,
Yang terasa pahit dilidah,
Namun manis di hati.

Rindu – rindu yang ku simpan akan ada waktunya,
Tuk bersua dengan pemiliknya,

Alam kerinduan yang sudah berlabuh,
Akan tetap menunggu sampai kapal menjemput

 

@gustin_narra

PANGGAH ORA KETORO?*1

pasangan-kekasih_20170509_164240

 

PANGGAH ORA KETORO *1)

 

Terakhir kali daku melihatmu,
Kau sedang tersenyum manis,
Bahkan terlalu manis untukku,
Tak lupa kau meracik senyum itu dengan bumbu tradisional milikmu,
Hingga senyummu terasa berat tuk dinikmati.

Kau membubuhkan setitik harapan padanya,
Harapan kosong yang entah bisa ku terima atau tidak,

Nafasku tersengal mengintip kenyataan,
Tatapan matamu mengalirkan senyum yang begitu tulus,
Enggan kaki ini melangkah pergi,
Meninggalkanmu sendiri.

Mentari pun malumalu,
Ia meninggalkanmu dengan senyum cibirannya,
Tak ada kata yang terucap memang,
Karna memang hati ini belum siap.

Maaf,
Jika ketidaksiapanku membuat dirimu menunggu,
Menunggu ombak yang entah kapan berlalu,

Mentari masih mencari tempat singgah,
Terpaut jarak dan waktu,
Itu tak masalah.

Rasa yang kian membuncah,
Membentuk rangkaian kata nan indah,

Aku mencoba menepi,
Menghilangkan bayangmu,
Yang selalu memaksaku tuk merindu mu.

Tak habis pikir,
Nyaman itu menumbuhkan hal baru,
Menumbuhkan guratanguratan rindu.

Seberapa kerasnya aku menolak,
Tetap saja ia kan selalu hadir,
Mengganggu ruang hampa,
Yang tlah menjadi rumah bagi laba- laba.

Letih memang,
Rasa yang tlah menampakkan hadirnya,
Selalu tertutup oleh bayangbayang awan yang tak tau diri,

Terimakasih,,,
Kaulah inspirasiku,
Kaulah bintangku,
Kaulah yang menghidupkan malamku dengan segala rindumu.
Salam dari kaki Lawu.
Tu me manques*2

 

*1 Tetap Tidak Terlihat?
*2 Aku Merindukanmu

@Gustin_narra