Beranda » Kajian Islami

Category Archives: Kajian Islami

Ramadhan Bulan Istimewa

Image result for bulan ramadhan

Al Quran diturunkan di bulan Ramadhan

Allah ta’ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan ) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda ( antara yang hak dan yang bathil )“ ( Al Baqarah : 185 )

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata ( Allah ta’ala memuji bulan bulan Puasa diantara bulan – bulan lainnya, dengan memilih bulan tersebut ( sebagai waktu ) diturunkannya Al Qur’an ) lihat Tafsir Ibnu Katsir 1 / 282

Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullah berkata ( dalam ayat yang mulia ini Allah menyebutkan 2 keutamaan bulan Ramadhan: ……………. Yang kedua adalah dengan diwajibkannya puasa Ramadhan atas umat ini, sebagaimana firman Allah “ karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir ( di negeri tempat tinggalnya ) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, “ ) lihat ithaaful Iman bi Duruus Syahri Ramadhan hal. 15

Dibukanya Pintu Surga dibulan Ramadhan

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Jika bulan Ramadhan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu” [2]

Bulan Ramadhan adalah Bulan Penuh Berkah

Lailatul Qadr ( malam kemuliaan ) adalah suatu malam yang ada pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, yang mana malam tersebut memiliki banyak sekali barakah dan kemuliaan, bahkan satu malam tersebut lebih baik dari seribu bulan.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar“ ( Al Qadr : 1-5 )

Diampuninya Dosa – Dosa dibulan Ramadhan

لْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Saatnya Mengubah Status dibulan Ramadhan

Kisah cinta Nabi Musa Menemukan jodohnya bermula dari perjalanan panjang Musa a.s dari Mesir, sebuah kota yang berada di Afrika (sekarang) menuju Kota Madyan (sebelah barat laut Hijaz, Arab sekarang).

Allah swt berfirman dalam QS Al-Qoshos:

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ  (21)

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيل(22)

Maka keluarlah Musa dari Kota itu (Mesir) dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo`a “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim”

Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdoa: “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.”

Musa ketakutan? Ada apakah gerangan? Musa keluar dari negeri Mesir dengan perasaan takut, khawatir karena ia akan ditangkap oleh pengawal/tentara Fir’aun. Ini karena Musa baru saja membunuh salah seorang pemuda Qibthi (Bangsa Mesir) yang terlibat perkelahian dengan salah seorang pemuda dari kalangan Bani Israil. Peristiwa pembunuhan itu di luar prediksi Musa, ia bermaksud melerai perkelahian antara kedua pemuda tersebut. Ketika Musa bermaksud menolong pemuda dari Bani Israil, ia memukul pemuda dari bangsa Qibthi dengan tangannya, sehingga pemuda tersebut meninggal seketika.

Peristiwa terbunuhnya pemuda Qibthi (Bangsa Mesir) ini terdengar oleh Fir’aun sehingga ini menjadi bukti bahwa Musa merupakan bagian dari Bani Israil, yang pada saat itu Bani Israil adalah kaum yang ditindas di negeri Mesir, maka Fir’aun memerintahkan pengawalnya untuk menangkap Musa. Mengetahui bahwa dirinya akan ditangkap oleh pengawal Fir’aun, maka Musa memutuskan untuk meninggalkan Mesir, sembari memohon perlindungan kepada Allah:

رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim”

Musa memohon perlindangan atas kezhaliman yang telah dilakukan oleh Fir’aun terhadap dirinya hanya karena ia bukan dari golongannya (Fir’aun/Mesir) melainkan dari golongan Bani Israil.

Musa memutuskan keluar dari Mesir, tempat dimana ia dilahirkan dan tumbuh besar. Tanpa meninggalkan pesan kepada keluarganya, tanpa pemandu jalan. Lazimnya orang yang baru pertama kali melakukan perjalanan, tentunya ia akan membutuhkan petunjuk jalan. Maka Musa pun memohon petunjuk kepada sebaik-baik Penunjuk jalan, Musa berdo’a:

قَالَ عَسَى رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيل

Ia berdoa: “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.”

Maka lihatlah petunjuk yang Allah berikan, Musa dibimbing oleh Allah menuju  Kota Madyan, sebuah negeri yang terletak di sebelah utara Laut Merah. Allah menceritakan keberadaan Musa di Kota Madyan melalui ayat berikut:

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ(23)

فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ(24)

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” (QS Al-Qoshos ayat 23)

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS Al-Qoshos ayat 24)

 

Iklan