Beranda » Resensi Buku

Category Archives: Resensi Buku

Resensi Buku “Agama”

P_20170509_140848.jpg

 

  1. Identitas Buku
    1. Judul Buku : Agama
    2. Nama Pengarang : Dr. Sudarno Shobron, M.Ag. DKK
    3. Nama Penerbit : Lembaga Pengembangan Al – Islam dan Kemuhammadiyahan (LPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta
    4. Ketebalan Buku : 176 halaman
    5. Tahun Terbit : Juli 2015
  1. Pendahuluan

Buku “Agama” ini hadir sebagai salah satu usaha LPIK – UMS di dalam mewujudkan pandangan hidup yang berpangkal pada tauhid. Yang mana implikasi pokok tauhid ialah pemusatan kesucian hanya kepada Allah SWT.

  1. Ikhtisar Buku

Aqidah secara bahasa artinya simpul, kokoh, ikatan, dan perjanjian. Menurut istilah aqidah adalah sejumlah kebenaran yang secara fitrah dapat diterima secara umum dan tidak akan bercampur sedikitpun dengan keraguan serta dapat mendatangkan ketentraman jiwa.

Tauhid berarti mengakui keesaan Allah, kalimat tauhid akan memiliki makna yang utuh apabila difahami dengan 7 syarat, yakni al – ‘ilm, al – yaqin, al – qobul, al – inqiyad, al – shidqu, dan mahabbah. Esensi tauhid terdapat dalam kalimat “ la ilaha illa Allah”.

Rukun iman ada enam harus dapat dijadikan pedoman dan tumpuan dalam berpikir, bertindak, dan berbuat sesuatu. Iman memiliki fungsi dan hikmah yang besar bagi kehidupan, misalnya melenyapkan ketergantungan kepada benda, semangat manghadapi kematian, kemandirian, hidupnya terarah ke nilai- nilai yang baik, melahirkan sikap ikhlas, dan memberikan keuntungan dunia akhirat.

Sedangkan akhlak secara bahasa adalah adat kebiasaan, tabiat, budi pekerti, kejantanan. Secara istilah adalah perbuatan manusia yang lahir tanpa dipikirkan dan dipertimbangkan, bernilai baik atau buruk. Akhlak merupakan bentuk eksternalisasi iman yang jelas kelihatan. Ukuran perbuatan baik buruk antara akhlak, moral, dan etika terletak pada tolak ukurnya. Akhlak ukurannya al Quran, al Sunnah, dan hati nurani, moral ukurannya kesepakatan masyarakat, dan etika ukurannya akal. Ruang lingkup akhlak sangatlah luas, karena menyangkut semua segi kehidupan manusia, missal akhlak kepada Allah, manusia, keluarga, masyarakat, dan alam semesta.

  1. Kelebihan Buku
  • Penjelasannya sangat rinci
  • Terdapat kesimpulan dari setiap BAB, sehingga memudahkan pembaca untuk me-refresh materi
  • Terdapat daftar pustaka dari setiap BAB, sehingga memudahkan pembaca untuk mencari referensi dari sumber lain
  1. Kekurangan Buku
  • Ada beberapa kata yang sulit dimengerti
  • Kurang menarik untuk dibaca karena kertas yang digunakan kertas buram
  • Tidak terdapat indeks
  1. Pendapat Penulis

Buku ini sangatlah bagus untuk dipelajari, memuat persoalan – persoalan yang sangat mendasar dalam kehidupan keagamaan, yakni tentang aqidah, yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah dan implikasinya dalam kehidupan sehari – hari. Buku ini juga membahas tentang akhlak sebagai manifestasi pemahaman manusia yang bertauhid.

 

 

Iklan

Resume Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”

habis gelap terbitlah terang
R.A. Kartini cucu pangeran Ario Tjondronegoro, Bupati Demak yang terkenal suka akan kemajuan. Kartini lahir pada tanggal 28 Rabiulakhir tahun jawa 1808 ( 21 April 1879) di Mayang Kabupaten Afdeling, Jepara. Kartini hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S (Europese Lagere School) atau tingkat Sekolah Dasar. Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat – istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah. Adat istiadat  di waktu itu tidak memperbolehkan perempuan berpelajar dan tidak boleh bekerja di luar rumah, menduduki jabatan di dalam masyarakat. Perempuan itu harus takluk semata – mata tidak boleh mempunyai kemauan. Perempuan hendaknya bersedia untuk dikawinkan dengan laki – laki pilihan orang tuanya. Perkawinan, hanya itulah yang boleh dicita – citakan oleh anak gadis.
Kartini tidak bebas karena merasa tidak diberi pilihan, untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang terpelajar serta gemar membaca buku, mulai menyadari ketertinggalan wanita sebangsanya bila dibandingkan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.
Kartini merasakan sendiri bagaimana ia dikekang, tidak diperbolehkan sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi, padahal dirinya adalah seorang anak Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah merasakan pendidikan sama sekali. Sejak saat itu Kartini bertekad untuk memajukan wanita Indonesia. Langkah yang ditempuh Kartini untuk mewujudkan cita – citanya itu hanya dapat dicapai melalui Pendidikan. Untuk mengawali cita – citanya tersebut Kartini mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya. Di sekolah tersebut Kartini mengarjakan menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semua itu Kartini berikan dengan cuma –cuma. Bahkan dengan cita cita mulianya itu. Kartini berencana mengikuti sekolah guru di negerii Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidikk yang lebih baik. Beasiswa dari pemerintah belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orang tuanya. Guna mencegah kepergian Kartini tersebut, Kartini dipaksa untuk menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang. Setelah menikah Kartini masih mendirikan sekolah di Rembang. Apa yang dilakukan Kartini diikuti oleh wanita – wanita lainnya, dengan mendirikan “Sekolah Kartini” seperti di Semarang, Yogyakarta, Malang, Cirebon, Madiun dan lain – lain.
Apa yang sudah dilakukan Kartini sangatlah besar pengaruhnya pada kebangkitan bangsa ini, terutama emansipasi wanita. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukan Kartini, seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah berkehendak lain, Kartini meninggal pada usia 25 tahun, yakni pada 17 September 1904, ketika Kartini melahirkan anak pertamanya.
Kita sebagai kaum wanita hendaknya bersyukur atas pengorbanan Kartini dalam menjunjung derajat wanita. Kita telah hidup di era globalisasi, dimana hak wanita dan hak laki – laki itu sama.